Skip to main content

aktivitas fisik dibutuhkan untuk kesehatan jiwa dan fisik anak

TV dan Komputer Ganggu Kejiwaan Anak



Informasi yang tak terbendung bisa berbahaya jika tak tidak dibarengi dialog terbuka orangtua dan anak.
TERKAIT:
  • Pola Menonton Televisi Anak Sangat Buruk
  • Mencegah Anak Terimbas Pornografi
  • Televisi Membuat Si Kecil Bodoh?
NEW YORK, KOMPAS.com — Ini adalah peringatan bagi para orangtua yang terlalu bebas dan longgar memberi waktu kepada anak-anak menonton televisi atau bermain komputer. Jangan membiarkan anak-anak terlalu lama di depan layar karena kebiasaan ini dapat menimbulkan risiko lebih besar bagi kejiwaan anak-anak.
Menurut sebuah riset di Inggris, kebiasaan anak nongkrong di depan TV atau main komputer lebih dari dua jam sehari akan menimbulkan efek negatif pada kesehatan psikologis mereka.
Hasil kajian para ahli dari Universitas Bristol terhadap sekitar 1.000 anak berumur 10 hingga 11 tahun menunjukkan, efek buruk tersebut muncul tanpa dipengaruhi seberapa aktif anak-anak tersebut bermain selama seharian.
Pada riset tersebut, pemantauan dilakukan selama lebih dari tujuh hari terhadap intensitas waktu yang dihabiskan anak-anak dalam di depan televisi atau komputer.
Dengan metode kuisioner, anak-anak juga harus menjawab pertanyaan yang menjelaskan keadaan jiwa mereka, termasuk emosi, tingkah laku, dan masalah lain yang berkaitan. Para peneliti juga menggunakan pengukur tingkah laku (accelerometer) yang memantau aktivitas fisik mereka.
Hasil kajian menunjukkan, anak yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari untuk salah satu kegiatan tersebut cenderung mengalami problem psikologis sekitar 60 persen lebih tinggi dibanding mereka yang menghabiskan waktu lebih sedikit. Selisih itu menjadi dua kali lipat bila anak-anak melakukan kedua-duanya (menonton TV dan main komputer) serta menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk tiap-tiap layar tersebut selama sehari.
Menurut peneliti, hasil riset ini tidak dipengaruhi jenis kelamin, umur, tingkat pubertas, atau tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi.
"Kami menyadari, aktivitas fisik dibutuhkan untuk kesehatan jiwa dan fisik anak. Ada beberapa bukti bahwa menonton layar itu mengakibatkan perilaku negatif. Namun, masih belum jelas apakah tingkat aktivitas fisik dapat "menetralkan" tingginya intensitas menonton layar itu bagi anak," ujar dr Angie Page kepada Reuters Health.
Riset juga menunjukkan, problem psikologis terus meningkat jika anak-anak kehilangan waktu untuk berolahraga secara teratur minimal satu jam sehari akibat  meningkatnya intensitas tontonan atau permainan komputer. Bagaimanapun, aktivitas fisik tidak dapat mengimbangi konsekuensi kejiwaan dari waktu untuk menonton TV atau main komputer.
Walau begitu, Page dan timnya mengakui kalau penelitiannya juga memiliki beberapa keterbatasan, termasuk potensi ketidak-akuratan seorang anak saat mengisi jadwal kegiatan pada kuisioner.

sumber : http://health.kompas.com

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Manual untuk membeli Speaker PC terbaik

Sebuah Manual untuk membeli S peaker PC terbaik speaker PC Apakah Anda pernah mencoba untuk membeli speaker PC yang paling menguntungkan di komputer pribadi Anda? Berdasarkan mempekerjakan Anda miliki untuk pc, Anda harus memahami apa pada speaker pc akan cocok Anda yang terbaik. Dalam kasus Anda benar-benar seorang programmer atau orang yang memanfaatkan PC untuk fungsi khusus saja, termasuk suara yang melibatkan multimedia, speaker mendasar biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda untuk menunjukkan sejak speaker PC Sangat terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Karena itu, sebaiknya Anda menikmati untuk memperhatikan musik, bermain game komputer definisi besar sistem video, menonton film, dan sebagainya, pastikan Anda mungkin berpikir tentang di antara speaker yang lebih tinggi kinerja secara keseluruhan yang tersedia di three.one, lima. satu atau 7.one saluran untuk sistem surround jauh lebih baik dan suara yang sangat baik. Dimensi dalam Speaker, adalah mungkin unt...

berdampak negatif dan juga positif

Psikologi Kejiwaan Anak pada Masa Transisi Kajian pencarian jati diri bisa berdampak negatif dan juga positif, bagi  diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan dan juga perubahan sikap,  sudut pandang dan gaya hidup. Seseorang tidak perlu menjadi seseorang yang lain untuk mengubah jati diri dari keadaan semula  menjadi keadaan kemudian, dalam hal ini seorang anak pada masa  transisi, yaitu masa peralihan dari masa remaja menjadi masa dewasa, tidak harus menjadi kan kata “pencarian jati diri” sebagai  momok yang menakutkan bagi orang-orang sekitarnya, karena mungkin saja keadaan dan lingkungannya tidak mengerti, tidak mau